MANUSIA DAN KEINDAHAN
Dimas Gumelar Septianugraha (52416044)
1IA10
Ilmu Budaya Dasar
I. KEINDAHAN
Kata keindahan berasal dari kata indah yang berarti molek, bagus, permai,
cantik, dan sebagainya. Keindahan merupakan daya tarik seni dari suatu hal.
1. Pengertian
Keindahan
Keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas pokok
tertentu yang terdapat pada suatu hal (obyek) yang memberi kepuasan bagi
penyerapnya.
o Keindahan alam
arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani dulu yang didalamnya
tercakup pula kebaikan. Plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan
hukum yang indah, sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang
selain baik juga menyenangkan.
o Keindahan dalam
arti estetik murni menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam
hubungannya dengan segala sesuatu yang dilihatnya.
o Sedang keindahan
dalam arti terbatas lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda
yang dicerna dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna.
Keindahan atau keelokan merupakan sifat dan ciri dari
orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi
kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau
elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi
sosial, dan budaya. Sebuah "kecantikan yang ideal" adalah sebuah
entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan
dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.
2. Perbedaan
Keindahan Sebagai Suatu Kualitas Abstrak Dan Sebuah Benda Tertentu Yang Indah
Sebenarnya sulit bagi kita untuk menyatakan apakah
keindahan itu. Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati
karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan
sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru
dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk. Dengan bentuk itu
keindahan berkomunikasi. Menurut cakupannya orang harus membedakan keindahan
sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah.
Untuk pembedaan itu dalam bahasa Inggris sering dipergunakan istilah “beauty”
(keindahan) dan “the beautiful” (benda atau hal indah).
Keindahan abstrak adalah suatu konsep abstrak yang
tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah
dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain
keindahan itu baru dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk
Keindahan pada benda tertentu adalah keindahan yang
memiliki konsep pemahaman dan nilai yang berbeda dengan kualitas abstrak di
mana benda yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu yang mewakili keindahan
secara umum dan dapat dengan mudah diterima maupun dipahami oleh masyarakat.
3. Pengertian
Keindahan Menurut Luasnya
a. Keindahan Dalam
Arti Luas
Dalam arti yang luas, sebenarnya pengertian ini masih
diambil dari bangsa yunani yang didalamnya mencakup pula kebaikan. Menurut
beberapa ahli antara lain :
1. Plato mengatakan
bahwa watak yang indah adalah hokum yang indah;
2. Aristoteles
mengatakan bahwa keondahan merupakan sesuatu yang selain baik juga
menyenangkan;
3. Plotinus
menuliskan dalam bukunya tentang ilmu yang indah dan kebijakan yang indah.
Dari beberapa ahli tersebut, bangsa Yunani tetap
mengatakan bahwa keindahan adalah sesuatu ilmu dan ada yang indah dan akan
terus berlangsung.bangsa yunani lebih berbicara tentang arti keindahan dalam
arti estetik yang disebut sebagai ‘symmetria” untuk keindahan yang berdasarkan
penglihatan semata dan harmonia untuk keindahan yang berdasarkan pendengaran.
Keindahan yang seluas-luasnya meliputi :
· Keindahan seni
Keindahan seni adalah keindahan yang tercipta dari hasil karya seseorang
tehadap seni. Seni sering sekali menjadi penghubung keindahan agar bisa dinikmati
oleh pengamat objeknya. Seseorang paling dominan menikmati keindahan itu lewat
seni.
· Keindahan alam:
Keindahan alam adalah keindahan yang sudah ada di alam
sekitar kita. Keindahan yang ada bisa dinikmati oleh penglihatan kita.
· Keindahan moral:
Keindahan moral adalah keindahan yang tercipta dari
tingkah laku dan perilaku kita sehari-hari.
· Keindahan
Intelektual:
Keindahan intelektual adalah pemikiran yang indah
berdasarkan ilmu pengetahuan. Tulisan ini bukanlah mencari pengertian mengenai
kata keindahan intelektual.
b. Keindahan
dalam arti estetis murni:
Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut
pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang
dicerapnya.
c. Keindahan dalam
arti terbatas dalam pengertiannya dengan penglihatan
Keindahan dalam arti terbatas lebih disempitkan
sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dicerapnya dengan penglihatan, yakni
berupa keindahan dari bentuk dan warna.
4. Nilai Estetik
Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang gie
menjelaskan bahwa pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai
sepertihalnya nilai moral, nilai ekonomik, nilai pendidikan dan sebagainya.
Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian
keindahan disebut nilai estetik. Nilai adalah suatu relaitas psikologis yang
harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia
dan bukan pada bendanya itu sendiri. Nilai itu oleh orang dipercaya terdapat
pada sesuatu benda sampai terbukti ketakbenarannya.
Ada 2 nilai yang penting dalam
Keindahan :
- Nilai ekstrinsik yakni
nilai yang sifatnya sebagai alat atau membantu untuk sesuatu hal.
Contohnya tarian yang disebut halus dan kasar.
- Nilai intrinsik yakni
sifat baik yang terkandung di dalam atau apa yang merupakan tujuan dari
sifat baik tersebut. Contohnya pesan yang akan disampaikan dalam suatu
tarian.
Teori estetika keindahan menurut Jean M. Filo dalam bukunya
“Current Concepts of Art” dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :
ü Kelompok yang
berpendapat bahwa keindahan itu bersifat subjektif adanya, yakni karena
manusianya menciptakan penilaian indah dan kurang indah dalam pikirannya
sendiri.
ü Kelompok yang
berpendapat bahwa keindahan bersifat objektif adanya, yakni karena keindahan
itu merupakan nilai yang intrinsik ada pada suatu objek.
ü Kelompok yang
berpendapat bahwa keindahan itu merupakan pertemuan antara yang subjektif dan
yang objektif, artinya kualitas keindahan itu baru ada apabila terjadi
pertemuan antara subjek manusia dan objek substansi.
Ada tiga hal yang nyata ketika seseorang menyatakan
bahwa sesuatu itu indah, apabila ada keutuhan (Integrity) ada keselarasan
(Harmony) serta kejelasan (Clearity) pada objek tersebut. Ini biasanya disebut
sebagai hukum keindahan.
Keindahan itu sendiri datangnya dari Tuhan, seperti manusia
yang merupakan ciptaaan Tuhan yang memiliki keindahan misalnya wanita menjadi
cantik jika dari dalam dirinya cantik dan akan terpancar aura keindahannya,
begitu pula dengan pria. Maka dari itu keindahan merupakan satu kesatuan.
Pengungkapan keindahan dalam karya seni
didasari oleh motivasi tertentu dan dengan tujuan tertentu pula. Motivasi itu dapat
berupa pengalaman atau kenyataan mengenai penderitaan hidup manusia, mengenai
kemerosotan moral, mengenai perubahan nilai-nilai dalam masyarakat, mengenai
keagungan Tuhan, dan banyak lagi lainnya. Tujuannya tentu saja dilihat dari
segi nilai kehidupan manusia, martabat manusia, kegunaan bagi manusia secara
kodrati.
Ada beberapa alasan mengapa manusia menciptakan
keindahan, yaitu sebagai berikut:
Ø Tata nilai yang
telah usang
Ø Kemerosotan
Zaman
Ø Penderitaan
Manusia
Ø Keagungan Tuhan
5. Perbedaaan Nilai
Ekstrinsik Dan Nilai Intrinsik
Menurut kadarnya nilai digolongkan atas nilai Ekstrinsik dan
nilai Intrinsik.
· Nilai ekstrinsik (instrumental
value/contributory value) yaitu sifat baik dari suatu benda dipandang dari segi peranan membantu memberi sifat baik
tersebut.
· Nilai intrinsik (consummatory
value) yaitu sifat baik dalam diri suatu bendademi kepentingan benda tersebut. Nilai intrinsik ini adalah: kebenaran,
kebaikan dan keindahan.
Berikut adalah contoh perbedaan nilai ekstrinsik dan
nilai intrinsik.
1. Puisi bentuk
puisi yang terdiri dari bahasa diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai
Ekstrinsik. Sedangkan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat
benda) puisi itu disebut nilai Instrinsik.
2. Tari, tarian
Darmawulan – minakjinggo merupakan suatu tarian yang halus dan kasar dengan
segala macam jenis pakaian dan gerak – geriknya. Tarian itu merupakan nilai
ekstrinsik, sedangkan pesan yang ingin disampaikan tarian itu adalah kebaikan
melawan kejahatan merupakan nilai Instrinsik.
Nilai Ekstrinsik dan Nilai Ekstrinsik dalam Keindahan
· Nilai intrinsik
adalah nilai yang lebih kepada penilaian berdasarkan pada apa yang terlihat
saja oleh mata dan imajinasi seseorang, tanpa mempertimbangkan aspek lain.
Dengan kata lain nilai intrinsik adalah nilai-nilai yang berasal dari penilaian
panca indra yang hanya berdasarkan pada logika.
· Nilai ekstrinsik
adalah nilai-nilai yang tidak dapat dinilai oleh panca indra, berkenaan aspek
kejiwaan, filsafat atau psikologi, serba noumena, transendental. Nilai
ekstrinsik hanya bisa dirasai oleh jiwa, intuisi dan naluri dengan pendekatan
ilmu, filsafat, kebudayaan dan sisi pribadi individu.
Gambaran bahwa keindahan juga memiliki nilai ekstrinsik dan nilai
instrinsik
Nilai ekstrinsik dapat diartikan sebagai alat bantu untuk menyempurnakan suatu
keindahan. Contoh Sebuah musik jika tidak dibantu dengan nada dan irama yang
pas, maka musik itu tidak akan terdengar indah di telinga.
Nilai intrinsik dapat diartikan dengan nilai yang terkandung dalam suatu keindahan.
Contoh Lukisan yang dibuat oleh tangan manusia memiliki arti dan maksud dari
lukisan yang ia buat. Dalam arti luas adalah pendeskripsian dari lukisan yang
dibuat.
Nilai keindahan instrinsik adalah
nilai yang berbentuk seni dan dapat dirasakan dengan indra mata, telinga, atau
keduanya. Nilai dengan bentuk ini kadang juga disebut nilai struktur, yaitu
mengenai cara menyusun nilai-nilai ekstrinsiknya yang diperoleh
dari rangkaian peristiwa. Semuanya disusun sedemikian rupa sehingga menjadi
susunan yang terstruktur dan dinamis oleh nilai instrinsik. Cara menyusun
bentuk susuna tersebut melahirkan sebuah cerita. Kumpulan peristiwa yang sama
oleh dua orang penulis mungkin saja disusun berdasarkan urutan atau struktur
yang berbeda, sehingga nilai seninya juga berbeda.
Ada beragam hasil seni budaya
yang menggunakan pendekatan ekstrinsik dan pendekatan intrinsik dan melalui
proses penghayatan kita dapat mengetahui alasan mereka atau seniman menciptakan
keindahan melalui hasil seni.
6. Pengertian
Kontemplasi Dan Ekstansi
Keindahan dapat di golongkan menurut selera seni
maupun selera biasa. Setiap manusia memiliki rasa atau selera tentang
keindahan. Keindahan yang di dasarkan pada selera seni di dukung oleh
faktor kontemplasi dan ekstansi. Kontemplasi merupakan dasar dari
pemikirian manusia untuk menyatakan keindahan. Sedangkan ekstansi merasakan
atau menikmati suatu keindahan. Jadi kontemplasi dan ekstansi saling
keterhubungan. Sehingga manusia dapat merasakan suatu keindahan dan kemudian
dinyatakan oleh ungkapan.
Kontemplasi adalah suatu proses bermeditasi,
merenungkan atau berfikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna,
manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan. Dalam kehidupan
sehari-hari orang mungkin berkontemplasi dengan dirinya sendiri atau mungkin
juga dengan benda-benda ciptaan Tuhan atau dengan peristiwa kehidupan tertentu
yang berkenaan dengan dirinya atau diluar dirinya. Di kalangan umum kontemplasi
di artikan sebagai aktivitas melihat dengan mata atau dengan pikiran untuk
mencari sesuatu dibalik yang tampak atau tersurat misalnya, dalam ekspresi
seseorang sedang berkontemplasi dengan bayang-bayang dirinya di muka cermin. Dalam
artikelnya, Armein Z. R. Langi. menjelaskan arti dan pentingnya kontemplasi
dalam hidup kita. Menurut Armein “kontemplasi mirip dengan meditasi tapi tidak
sepenuhnya mengosongkan pikiran. Kontemplasi lebih pada merasakan kehadiran
Tuhan, memikirkan dan merenungkan konsep kehidupan. Mengevaluasi diri.
Menghayati jalannya hidup kita”. Masih menurut Armein pentingnya kontemplasi
adalah “untuk mencegah kita hidup terlalu menuruti kebiasaan (habbits)”.
Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk
menyatakan, merasakan, dan menikmati sesuatu yang indah. Apabila kontemplasi
dan Ekstansi itu di hubungkan dengan kreativitas, maka kontemplasi itu faktor
pendorong untuk menciptakan keindahan, sedangkan Ekstansi merupakan faktor
pendorong untuk merasakan, menikmati keindahan. Karena derajat atau tingkat
Kontemplasi dan Ekstansi itu berbeda-beda antara setiap manusia, maka tanggapan
terhadap keindahan karya seni juga berbeda-beda.
II. RENUNGAN
Renungan berasal dari kata renung; artinya diam-diam
memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah
hasil merenung. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori.
Teori-teori itu ialah :
Dalil dari teori ini ialah bahwa “Art is an expression
of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia ).
Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman
ketika menciptakan suatu karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal
ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) dengan karyanya yang telah
diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “aesthetic as Science of Expresion and
General Linguistic”. Beliau antara lain menyatakan bahwa “art is expression of
impressions” (Seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan) Expression adalah sama
dengan intuition. Dan intuisi adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh
melalui penghayatan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran
angan-angan (images). Dengan demikian pengungkapan itu berwujud sebagai
gambaran angan-angan seperti misalnya images wama, garis dan kata. Bagi
seseorang pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya
kegiatan jasmaniah keluar. Pengalaman estetis seseorang tidak lain adalah
ekspresi dalam gambaran angan-angan.
Teori semi yang bercorak metafisis merupakan salah
satu teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karya tulisannya
untuk sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi keindahan dan teori seni.
Mengenai sumber seni Plato mengemukakan suatu teori peniruan (imitation
theory). Ini sesuai dengan rnetafisika Plato yang mendalilkan adanya dunia ide
pada taraf yang tertinggi sebagai realita Ilahi. Pada taraf yang lebih rendah
terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi
itu. Dan karya seni yang dibuat manusia hanyalah merupakan mimemis (timan) dari
realita duniawi Sebagai contoh Plato mengemukakan ide Ke-ranjangan yang abadi
dan indah sempurna ciptaan Tuhan. Kemudian dalam dunia ini tukang kayu membuat
ranjang dari kayu yang merupakan ide tertinggi ke-ranjangan-an itu. Dan
akhirnya seniman meniru ranjang kayu itu dengan menggambarkannya dalam sebuah
lukisan. Jadi karya seni adalah tiruan dari suatu tiruan lain sehingga bersifat
jauh dari kebenaran atau dapat menyesatkan. Karena itu seniman tidak mendapat
tempat sebagai warga dari negara Republik yang ideal menurut Plato.
Teori-teori metafisis dari para filsuf yang bergerak
diatas taraf manusiawi dengan konsepsi-konsepsi tentang ide tertinggi atau
kehendak semesta umumnya tidak memuaskan, karena terlampau abstrak dan
spekulatif. Sebagian ahli estetik dalam abad modem menelaah teori-teori seni
dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan
mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa
dikemukakan teori bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan
keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seninya
itu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang diwujudkan keluar dari
keinginan-keinginan itu. Suatu teori lain tentang sumber seni ialah teori
permainan yang dikembangkan oleh Freedrick Schiller (1757-1805) dan Herbert
Spencer (1820-1903).
III. KESERASIAN
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata
dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan
sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang. Dalam
pengertian perpaduan misalnya, orang berpakaian harus dipadukan warnanya bagian
atas dengan bagian bawah, atau disesuaikan dengan kulitnya.
The Liang Gie dalam bukunya garis besar estetika
menjelaskan, bahwa dalam mencipta seni ada dua teori yakni teori obyektif dan
teori subyektif. Salah satu persoalan pokok dari teori keindahan adalah
mengenai sifat dasar dari keindahan. Apakah keindahan menampakan sesuatu yang
ada pada benda indah atau hanya terdapat dalam alarn pikiran orang yang
mengamati benda tersebut. Dari persoalan-persoalan tersebut lahirlah dua
kelompok teori yang terkenal sebagai teori obyektif dan teori subyektif.
Pendukung teori obyektif adalah Plato, Hegel dan
Bernard Bocanquat, sedang pendukung teori subyektif ialah Henry Home, Earlof
Shaffesbury, dan Edmund Burke. Teori obyektif berpendapat, bahwa keindahan atau
ciri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualitas) yang memang telah
melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang
mengamatinya. Pengamatan orang hanyalah mengungkapkan sifat-sifat indah yang
sudah ada pada sesuatu benda dan sama sekali tidak berpengaruh untuk menghubungkan.
Yang menjadi masalah ialah ciri-ciri khusus manakah yang membuat sesuatu benda
menjadi indah atau dianggap bernilai estetik, salah satu jawaban yang telah
diberikan selama berabad-abad ialah perimbangan antara bagian-bagian dalam
benda indah itu. Pendapat lain menyatakan, bahwa nilai estetik itu tercipta
dengan terpenuhinya asas-asas tertentu mengenai bentuk pada sesuatu benda.
Teori subyektif, menyatakan bahwa ciri-ciri yang
menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam
din seseorang yang mengamati sesuatu benda. Adanya keindahan semata-mata
tergantung pada pencerapan dari si pengamat itu. Kalaupun dinyatakan bahwa
sesuatu benda mempunyai nilai estetik, maka hal itu diartikan bahwa seseorang
pengamat memperoleh sesuatu pengalaman estetik sebagai tanggapan terhadap benda
indah itu. Yang tergolong teori subyektif ialah yang memandang keindahan dalam
suatu hubungan di antara suatu benda dengan alam pikiran seseorang yang
mengamatinya seperti misalnya yang berupa menyukai atau menikmati benda itu.
Teori obyektif memandang keindahan sebagai suatu
kualitas dari benda-benda. Kualitas bagaimana yang menyebabkan sesuatu benda
disebut indah telah dijawab oleh bangsa Yunani Kuno dengan teori perimbangan
yang bertahan sejak abab 5 sebelum Masehi sampai abab 17 di Eropa. Sebagai
contoh bangunan arsitektur Yunani Kuno yang berupa banyak tiang besar. Dan
dalam ilmu Yunani Kuno teori perimbangan dalam keindahan dianggap sebagai
kualitas dari benda benda yang disusun.
KESIMPULAN
Keindahan tidak dapat dilihat, melainkan dapat
dirasakan. Keindahan memiliki arti dan cakupan yang cukup luas. Keindahan
memiliki nilai-nilai estetika yang berhubungan dengan keindahan tersebut. Ada
tiga hal yang nyata ketika seseorang menyatakan bahwa sesuatu itu indah,
apabila ada keutuhan (Integrity) ada keselarasan (Harmony) serta kejelasan
(Clearity) pada objek tersebut. Ini biasanya disebut sebagai hukum keindahan.
Untuk merasakan keindahan, maka diperlukan sebuah renungan. Dan di dalam
renungan itu terdapat banyak teori yang berbeda yang menjelaskan bahwa renungan
memiliki banyak macam cara untuk mendeskripsikannya.
Dalam keindahan haruslah
terdapat sebuah keserasian antara satu hal dengan hal lainnya. Pada teori obyektif berpendapat, bahwa keindahan atau ciri-ciri yang
mencipta nilai estetik adalah sifat (kualitas) yang memang telah melekat pada
bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Teori
subyektif, menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu
tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam din seseorang yang mengamati sesuatu
benda.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar